KEMBAYAN, 20 November 2025 – Halaman Kantor Camat Kembayan menjadi saksi bisu khidmatnya upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Guru Nasional (HGN) Tahun 2025. Ratusan tenaga pendidik mengenakan seragam kebesaran Batik Kusuma Bangsa memenuhi halaman kantor kecamatan sejak pagi. Di bawah langit cerah, para guru dan tamu undangan berdiri tegap mengikuti rangkaian upacara, bersatu dalam semangat solidaritas dan pengabdian demi kemajuan pendidikan bangsa.
Peringatan tahun ini terasa istimewa bagi Kecamatan Kembayan karena dilaksanakan langsung di halaman kantor kecamatan. Panitia pelaksana berasal dari anggota PGRI, sementara Pemerintah Kecamatan Kembayan, dipimpin Camat Sandoro Atmojo, S.Sos, berperan sebagai fasilitator seluruh rangkaian acara, memastikan kelancaran jalannya upacara hingga akhir.
Pelaksanaan Upacara dan Sambutan Pembina Upacara
Bertindak sebagai Pembina Upacara, Camat Kembayan Sandoro Atmojo, S.Sos, memimpin jalannya peringatan dengan penuh khidmat. Dalam amanatnya, beliau membacakan sambutan tertulis Ketua Umum Pengurus Besar (PB) PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd. Sambutan tersebut menyoroti isu-isu strategis di dunia pendidikan, mulai dari sejarah panjang perjuangan guru, tantangan zaman modern, hingga pentingnya perlindungan hukum bagi profesi pendidik.
Sandoro menyampaikan bahwa peringatan HUT PGRI bukan sekadar acara seremonial, melainkan momentum bagi seluruh elemen pendidikan untuk merenungkan perjalanan panjang organisasi guru tertua di Indonesia ini sekaligus merumuskan langkah ke depan. "Para guru adalah penjaga peradaban bangsa. Tugas mereka tidak ringan, dan negara berkewajiban hadir memberikan perlindungan, ruang berkarya, serta kesejahteraan yang layak," ujarnya.
Sinergitas Lintas Sektoral di Kembayan
Upacara di Kembayan turut dihadiri oleh perwakilan TNI dan Polri sebagai bentuk dukungan terhadap dunia pendidikan di tingkat kecamatan. Kehadiran aparat keamanan yang duduk berdampingan dengan jajaran Pemerintah Kecamatan Kembayan dan pengurus PGRI menjadi simbol kuat bahwa perlindungan terhadap guru merupakan tanggung jawab bersama. Tanpa menyebutkan nama, kehadiran unsur TNI dan Polri ini menunjukkan bahwa komitmen untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman tidak hanya menjadi tugas sektor pendidikan saja.
Momentum tersebut sejalan dengan poin penting dalam sambutan yang dibacakan Camat Sandoro, yakni tuntutan perlindungan hukum bagi guru. Banyaknya kasus kriminalisasi guru dalam menjalankan tugas menegakkan kedisiplinan menjadi perhatian serius PGRI pada peringatan tahun ini. “Negara harus memastikan guru dapat bekerja mendidik dengan tenang tanpa dihantui ancaman proses hukum yang tidak proporsional,” tegas Sandoro.
Refleksi Sejarah Perjuangan Guru Indonesia
Peringatan HUT ke-80 PGRI menjadi sarana untuk menengok kembali sejarah perjuangan guru Indonesia. Camat Sandoro mengingatkan bahwa perjuangan dibalik terbentuknya PGRI bukanlah hal yang sederhana. Berdirinya Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) pada 1912 menjadi tonggak awal pergerakan guru Indonesia. Dua puluh tahun kemudian, pada 1932, organisasi tersebut berganti nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Penggunaan kata "Indonesia" pada masa penjajahan merupakan tindakan berani yang menunjukkan semangat kebangsaan para guru.
Puncaknya terjadi pada 25 November 1945, seratus hari setelah Proklamasi Kemerdekaan, ketika para guru dari berbagai latar belakang bersatu mendirikan PGRI di Surakarta. "Sejarah bukanlah beban ingatan, melainkan penerangan jiwa," kutip Sandoro, menegaskan bahwa perjalanan panjang PGRI menjadi bukti kuatnya komitmen guru dalam menjaga kedaulatan bangsa sejak era perjuangan fisik hingga era modern.
Aspirasi Guru untuk Pemerintahan Baru
Dalam amanat yang dibacakan, PGRI juga menyampaikan aspirasi kepada pemerintah baru Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Program Asta Cita yang menjadi visi pemerintahan baru dinilai memiliki ruang besar untuk memperkuat sektor pendidikan jika dijalankan dengan serius dan berorientasi pada kebutuhan tenaga pendidik.
Beberapa tuntutan utama yang disuarakan PGRI antara lain:
- Menjamin keberlanjutan Tunjangan Profesi Guru dan Dosen (TPGD) tanpa pengurangan.
- Mempercepat pelaksanaan program sertifikasi guru di seluruh Indonesia.
- Menyelesaikan pengangkatan tenaga honorer menjadi ASN, baik PNS maupun PPPK, tanpa diskriminasi antara guru negeri dan swasta.
“Pendidikan berkualitas hanya dapat diwujudkan jika guru sebagai ujung tombak pendidikan mendapatkan perlindungan, pengakuan, dan kesejahteraan yang layak,” tegas Sandoro.
Transformasi Digital dan Tantangan Masa depan
PGRI juga menyoroti pentingnya kesiapan guru menghadapi perkembangan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Sandoro Atmojo menekankan pentingnya pola pikir bertumbuh, kemampuan beradaptasi, serta keterampilan digital bagi para guru agar pembelajaran tetap relevan dengan kebutuhan generasi masa kini.
“Saya mengajak seluruh guru di Kembayan untuk terus belajar, berinovasi, dan mengembangkan kompetensi. Dunia pendidikan berubah cepat, dan guru harus menjadi pelopor perubahan itu,” tuturnya.
Solidaritas untuk Perlindungan Profesi Guru
Isu perlindungan hukum kembali menjadi perhatian penting dalam penutup amanat. Banyaknya kasus guru yang dipolisikan saat menjalankan tugas mendidik memicu kekhawatiran bahwa profesi ini semakin rentan. PGRI menegaskan perlunya regulasi khusus mengenai Perlindungan Guru agar guru dapat bekerja tanpa rasa takut.
Kehadiran unsur TNI dan Polri pada upacara ini semakin memperkuat pesan bahwa sinergi antarinstansi sangat penting untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan kondusif.
Penutup Upacara
Rangkaian upacara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh perwakilan PGRI setempat. Suasana haru terasa ketika seluruh peserta mengangkat suara lantang meneriakkan yel-yel “Hidup Guru! Hidup PGRI! Solidaritas, Yes!” Pekikan ini menggema di halaman Kantor Camat Kembayan sebagai penanda bahwa para guru siap terus mengabdi dan bergerak menuju Indonesia Emas.
Peringatan HUT ke-80 PGRI di Kembayan tahun ini bukan hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi menjadi refleksi, harapan, sekaligus seruan bersama untuk terus memperjuangkan martabat profesi guru. Dengan dukungan Pemerintah Kecamatan Kembayan, panitia PGRI, dan sinergi lintas sektor, kegiatan ini menjadi bukti kuat bahwa pendidikan yang berkualitas adalah cita-cita bersama seluruh elemen masyarakat.